Pembelajaran Sekolah Daring

Posting Komentar

 serba-serbi pembelajaran sekolah daring 


daring

Assalamualaikim wr wb, semoga kita selalu dalam keberkahan-NYA

Apa kabar dunia pendidikan?

Masihkah terdengar riuh harapan untuk kembali seperti semula?

Tidak dipungkiri bahwa dengan  sekolah daring,  sistem baru yang mau tidak mau harus dijalankan di dunia pendidikan ini mencabangkan efek-efek baru, bahkan dari semua sudut pandang entah itu tenaga pendidik, murid, hingga orangtua.

Kita coba urau satu demi satu.

Tenaga pendidik.

Guru sebagai tenaga pendidik dengan adanya situasi seperti sekarang tak ayal setengah dipaksa untuk terjun mengenal dunia baru "Penyampaian materi dengan berbagai dukungan aplikasi" yang tentu saja itu butuh dipelajari, dan dilaksanakan sesegera mungkin. Jadi kewajiban guru setidaknya bertambah, jika awalnya saat Kegiatan KBM dapat langsung tatap muka Guru cukup menyiapkan materi lalu langsung menjelaskan didepan kelas.

Kini, tugas guru bertambah ... selain menyiapkan materi pembelajaraan, guru jug wajib mempelajari cara-cara pnegemasan materi pembelajaran  sekolah daring dalam bentuk yang mudah dimengerti murid, namun tetap inti materi tersampaikan. Mungkin tidak begitu menjadi masalah ketika guru-guru tersebut termasuk guru-guru muda yang setidaknya  bersinggungan dengan dunia online, tapi akan cukup dirasa memusingkan bagi sebagian Guru yang telah (mohon maaf) lebih senior dari guru-guru muda. jngankan mengemas materi pembelajaran dalam betuk digital siap kirim, bahkan untuk mengoprasikan apliksi -aplikasi dasar standart saja beliau perlu berkali-kali mempelajari, pun begitu salut pada guru-guru yang tetap konsit belajar.

Setelah menyajikan dalam bentuk digital, tak cukup itu ... para guru juga harus membagikannya ke murid. setelah dibagikan, harus aiap jika sewaktu-sewaktu ada wali murid yang bertanya ini-itu,  atau bahkan komplain dengan penyampaian materi yang dibagikan, pe rihal kurang di sana-sini misalnya sebab memang bersifat belajar langsung action yang wajar bila ada kurangnya.

Murid

Murid tak kalah  rungsingnya dengan sekoah daring ini, kendala mereka setidaknya dua hal; perangkat dan daya tangkap. maksud saya begini, murid dalam pelaksanaan tugasnya akan berhapan dengan tugas-tugas online yang memerlukan alat dalam pengerjaanya. HP, laptop. sedangkan tidak semua murid memiliki fasilitas semua itu. 

Sedangkan kendala yang kedua adalah daya tangkap, yup ... ditulis demikian sebab memang ini mempengaruhi, ada murid dengan penjelasan materi via video (misalnya) dia dapat memahami, namun ada juga yang dengan video dia tidak paham, bahkan saat tatap muka pun harus berulang-ulang dijelaskan agar dia paham. 

Belum lagi di rumah tidak semuaorang tua mampu menjelaskan pembelajaran dengan baik. menjaga kesehatan mental para murid seolah perlu di garisbawahi, sebab berdasarkan survey selama pandemi ini, kekerasan ( dalam belajar) yang diterima anak meningkat. ini yang harus pahami orangtua khususnya (sebab belajar dari rumah) dan juga pihak sekolah, agar proposional dalam memberikan tugas.

Orangtua

Segmen ini adalah segmen yang memiliki banyak cerita, banyak juga yang dikeluhkan para orang tua, mulai dari sistem pembelajaran  sekolah daring yang mereka tidak begitu paham, apalagi materi pembelajarannya, penyediaan perangkat untuk sarana belajar anak-anaknya, hingga ke masalah sensitif yaitu pembayaran. 

Tidak semua orantua mampu memerankan sebagai "guru" sebab mereka juga mempunya kesibukan dan tanggung jawab yang lainya, terelebih bagi yang bekerja. Menjadi tambah komplit ketika orangtua tersebut yang (maaf) beliau tidak biasa mengoprasikan  perangkat Daring, maka orangtua perlahan akan belajar hal itu, dan.... tak cukup itu, ketika mampu mengoprasikan, orangtua juga idealnya mampu memahami materi yang disampaikan, maka orangtua harus juga memahami materi agar bisa mentrasnfer ke anak.

Setelah paham materi, sesi berikutnyadlah menjelaskan ke anak, alias berperan sebagi guru anak-anaknya. tidak begitu maslah jika si anak mudah memahami apa yang disampaikan orangtuanya, namun akan menjadi tragedi jika nak tidak jua paham, sedang orangtua juga semakin lelah dengan semua yang mereka upayakan, ini yang memicu percikan emosi.

Simpulkan

Guru  dengan cerita-ceritanya yang saya yakin penuh perjuangan, murid  dengan segala kebosananya, juga orangtua dengan segala kerepotannya, perlu kiranya kita ada saatnya memandang sikon ini memposisikan sebagai dinluar posisi kita pada nyatanya. misal kita guru kita perlu memandang bagaimana jika kita sebagai orang tua, sebagai murid. pun begitu jika kita sebagi orangtua ataupun murid kita perlu menempatan misal kita sebagai guru. jika dirasa perlu mungkin kita dengan posisi masing-masing perlu melakuakan self healing agar semua baik-baik saja.

Pandemi ini belumtahu kapan berakhir, namun lini pendidikan tidak boleh berhenti begitu saja. transfer pengetahuan atau ilmu harus tetap berjalan, maka dari itu siap tidak siap kita perlu menyiapkan diri dengan perubahan yang ada termasuk dalam pelaksanaan pembelajaran sekolah daring.


Akhir kata tetap semangat, sebagai apapun anda. Sambil kita terus berikhtiyar, tak lupa kita tetap berdoa semoaga setia kita dapat menjalani ini semua dengan penuh keimanan.




nuha
Ibu rumahtangga, lahir jauh sebelum reformasi. Saat ini bergabung pada PAUD IT, kepo dengan dunia digital dan dunia tulis menulis he he he Ngeblog yuk ...terapi emosi lho ini.

Related Posts

Posting Komentar